Sabtu, 26 Desember 2020

Istighfar Anak Shaleh mengangkat Derajat Orang Tuanya di Surga

ONE  DAY  ONE  HADITS
Rabu, 23 Desember 2020 / 9 Jumadil Awwal 1442

Istighfar Anak Shaleh mengangkat  Derajat Orang Tuanya di Surga

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، أَنَّى لِي هَذِهِ ؟ فَيَقُولُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

Artinya: “Dari Abu Hurairah – Radhiyallahu ‘Anhu – berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda: ‘Sesungguhnya Allah ‘Azza Wajalla meninggikan derajat seorang hambaNya yang Saleh di surga, sehingga hamba tersebut bertanya: ‘Ya Rabb, Bagaimanakah semua ini (bisa menjadi) milikku?, Allah berfirman menjawabnya: ‘Karena Istghfar anakmu untuk dirimu'”. (HR: Ahmad, Ibnu Majah. Dan dinilai Shahih oleh Syaikh Al-Albani dan Hasan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth).

Pelajaran yang terdapat dalam hadits:

1- Allah ‘Azza Wajjalla akan meninggikan derajat di surga setiap orang tua dengan amalan dan istighfar anak-anaknya yang tak pernah mereka ia duga sebelumnya. 
2- Maka alangkah beruntungnya orang tua yang beriman dan saleh, terlebih apabila ia memiliki anak cucu yang Saleh dan Salehah. mereka akan berkumpul bersama di surga yang penuh kenikmatan dan kekal selama lamanya.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:

- Selamat mendidik diri dan keluarga dan jangan lupa untuk selalu membaca doa ini, doa yang pernah dipanjatkan oleh Nabi Zakariyya dan Ibrahim ‘Alaihimassalam agar kita diberikan anak cucu yang saleh

رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاء
“Ya Rabbi berikanlah kepadaku dari sisimu keturunan yang baik sesungguhnya engkau adalah Maha mendengar doa” Ali Imron: 38

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِين
َ
“Ya Rabbi berikanlah untukku (keturunan) yang Saleh”. As-Soffat:100

2- Apabila orang yang beriman memiliki keturunan yang mengikuti mereka dalam keimanan niscaya Allah akan hubungkan anak cucu mereka bersama dengannya kelak dalam satu Manzilah  (tempat) yang sama disurga. Demikian penjelasan Ibnu Katsir ketika menafsirkan Ayat ini:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

Artinya: “Dan orang-orang yang beriman beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga) dan kami tidak mengurangi sedikit pun pahala kebaikan atau kebajikan mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya” (QS: Ath-Thūr – 21). Lr

JASA IBU TAK TERBALASKAN

JASA IBU TAK TERBALASKAN
*ONE DAY ONE HADITH*
(Spesial Hari Ibu)

Diriwayatkan dari Mu’wiyah bin Jahimah as-Salami, ia berkata :
أَنَّ جَاهِمَةَ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَدْتُ أَنْ أَغْزُوَ، وَقَدْ جِئْتُ أَسْتَشِيْرُكَ. فَقَالَ: هَلْ لَكَ مِنْ أُمٍّ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَالْزَمْهَا، فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا
bahwasanya Jahimah pernah datang menemui Nabi lalu berkata: Wahai Rasulullah, aku ingin pergi jihad, dan sungguh aku datang kepadamu untuk meminta pendapatmu. Beliau berkata: “Apakah engkau masih mempunyai ibu?” Ia menjawab: Ya, masih. Beliau bersabda: “Hendaklah engkau berbakti kepadanya, karena sesungguhnya surga itu di bawah kedua kakinya.” [HR an-Nasa`i]

_Catatan Alvers_

Tanggal 22 Desember diresmikan sebagai hari ibu oleh Presiden Soekarno di bawah Dekret Presiden No. 316 thn. 1953, pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia 1928. Tanggal tersebut dipilih untuk merayakan semangat wanita Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. [Wikipedia]

Islam tidak memilih hari dan tanggal tertentu untuk peringatan hari ibu karena islam menjadikan setiap hari dan setiap tanggal adalah hari dimana anak wajib memuliakan ibunya. Namun demikian penetapan peringatan hari ibu adalah salah satu bentuk penghargaan atas jasa seorang ibu dan memotivasi agar kita senantiasa memuliakannya.

Berbicara tentang ibu, Saya teringat dengan lagu anak berikut :
Sembilan bulan ibu mengandung
dan melahirkan kita ke dunia
Siang dan malam ibu menyusui
Tiada merasa lelah dan letih
Kasih sayangnya cinta kasihnya
Sepanjang masa
Surga di telapak kaki ibu
Tak terbalas emas permata

Allah SWT mengingatkan kita akan betapa besarnya pengorbanan seorang ibu, sehingga Allah mewajibkan anak untuk bersyukur kepada Ibu dan bapaknya. Allah SWT berfirman : 
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِير
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. [QS Luqman : 14]

Sungguh apa yang telah dilakukan bapak dan ibu adalah pengorbanan besar yang tak terbalaskan. Diriwayatkan dari Abi Burdah, ia melihat melihat seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya sambil bersenandung :
إني لها بعيرها المذلل إن أذعرت ركابها لم أذعر 
Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh. Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.
Orang (yaman) itu lalu bertanya : 
ياَ ابْنَ عُمَرَ أَتَرَانِى جَزَيْتُهَا ؟  
“Wahai Ibnu Umar apakah aku telah membalas budi kepadanya?” 
Ibnu Umar menjawab, 
لاَ وَلاَ بِزَفْرَةٍ وَاحِدَةٍ
“Tidak, walaupun (dibanding dengan) satu tarikan nafas ketika melahirkan. [Adabul Mufrad]

Dari sini kita ketahui bahwa Birrul walidain (kebaktian anak kepada orangtuanya) bukanlah perilaku balas jasa, karena kebaktian seorang anak bagaimanapun baiknya tidaklah dapat membalas (impas) dengan apa yang telah dilakukan orang tuanya. Hal ini dikuatkan dengan sabda Rasul SAW:
لَا يَجْزِي وَلَدٌ وَالِدًا إِلَّا أَنْ يَجِدَهُ مَمْلُوكًا فَيَشْتَرِيَهُ فَيُعْتِقَهُ 
seorang anak tidak dapat membalas (kebaikan) kepada orang tuanya melainkan anak itu mendapatkan orang tuanya sebagai hamba sahaya lalu dia membelinya kemudian memerdekakannya”.[HR Muslim]

Membeli seorang hamba sahaya (budak) yang mana budak tersebut tak lain adalah bapaknya lalu memerdekakannya adalah hal yang mustahil terjadi, sebab dalam literatur fiqh dijelaskan bahwa jika seorang anak membeli seorang budak yang mana ia adalah bapaknya, maka dengan sendirinya bapak tersebut menjadi merdeka tanpa harus dimerdekakan oleh anaknya. 

Inti dari hadits tersebut adalah pernyataan mustahil seorang anak membalas kebaikan bapak atau ibunya. Jika dipikir-pikir mengapa demikian? Boleh jadi karena seorang anak telah melakukan apa yang telah dilakukan oleh ibu bapaknya namun keikhlasan dan doa tidak akan sama.

Terdapat sebuah kisah dimana seorang pemuda yang masuk ICU karena kecelakaan yang menimpanya hingga menyebabkan kepalanya luka, tangannya patah dan perutnya bercucuran darah. Dokterpun putus asa dibuatnya dan mengatakan bahwa tidak ada harapan lagi untuk hidup. Mendengar hal ini, Ibunya hampir pingsan namun sebagai ibu ia tidak putus asa, Ia tidak henti-henti berdoa dan bermohon kepada Allah agar anaknya itu selamat.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, keadaan pemuda tidak banyak berubah. Namun setiap malam pula Ibu bermunajat kepada Allah memohon keselamatan anaknya. sambil berlinang air mata, Sang ibu berdoa : 
”Ya Allah, sembuhkanlah anakku, Aku rela jika anggota badanku dapat ditukar dengan anggota badannya sehingga ia hidup sempurna tanpa cacat, bahkan aku rela nyawaku sebagai gantinya”

Setelah 5 bulan, akhirnya pemuda itu mulai membaik kondisi kesehatannya dan akhirnya dia sembuh sepenuhnya. Pemuda itupun hidup sehat dan normal hingga berumahtangga dan mempunyai anak. Dan di sisi lain, Ibunya, semakin hari semakin tua dan uzur. 

Pada usia 75 tahun ibu tadi jatuh sakit hingga masuk ke Rumah sakit yang sama. Pada mulanya, anaknya yang dulu kecelakaan itu masih merawat dan menjaga ibunya di RS, namun seiring dengan berlalunya waktu, semakin jarang dia datang menjenguk ibunya sampai pada suatu hari pihak RS menghubunginya untuk memberitahu keadaan ibunya yang semakin buruk. Iapun bergegas datang ke RS. didapatinya keadaan sang ibu semakin lemah dan Nafasnya turun naik. Dokterpun memberitahu bahwa ibunya sudah tidak ada harapan lagi. Anak tadi kemudian berdoa : “Ya Allah, seandainya mati lebih baik untuk ibu, maka Engkau matikanlah ibuku! Aku rela dengan kepergiannya”.

Alvers, Di sinilah perbedaan ibu dan anaknya. Kesabaran, keikhlasan dan Doa yang dipanjatkan. Orang bijak mengatakan : Satu ibu mampu membesarkan 10 anak namun 10 anak belum tentu mampu merawat seorang ibu. Maka sungguh mulia seorang ibu hingga Rasul SAW bersabda “surga itu di bawah kedua kakinya” dalam hadits utama di atas. Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk selalu berbakti kepada ibu dan bapak kita dan mendoakannya dengan hati yang tulus ikhlas. Semoga Allah senantiasa melimpahkan kasih sayang-Nya kepada Ibu dan bapak kita, Amin.

Salam Satu Hadits
DR.H.Fathul Bari, Malang, Ind

Bahaya Dusta

ONE  DAY  ONE  HADITS
Selasa, 22 Desember 2020 / 8 Jumadil Awwal 1442

Bahaya Dusta

عَنْ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقًا، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

Dari ‘Abdullah, dia berkata: Rasulallâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalian wajib jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa kepada surga. Jika seseorang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, akhirnya ditulis di sisi Allâh sebagai seorang yang selalu jujur. Dan jauhilah kedustaan, karena kedustaan itu membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa ke neraka. Jika seseorang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya ditulis di sisi Allâh sebagai seorang pendusta.”HR. Muslim, no. 105/2607

Pelajaran yang terdapat di dalam hadits:

1-  Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk berkata yang baik, di antara bentuk berkata yang baik adalah jujur, yaitu memberitakan sesuatu sesuai dengan hakekatnya. 
2- Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang dusta, yaitu memberitakan sesuatu yang tidak sesuai dengan hakekatnya. 
3- Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan dosa berdusta mengiringi dosa syirik  dan durhaka kepada orang tua. [HR. AlBukhâri,dan Muslim]
Menunjukkan bahwa berdusta termasuk dosa-dosa besar yang paling besar.
3- Hadits ini menjelaskan
bahwa dusta akan menyeret pelakunya ke neraka, maka hendaklah kita waspada.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al Qur'an:

1- Bahaya dusta banyak sekali, antara lain bahwa orang yang berdusta akan terhalang dari hidayah.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ

Sesungguhnya Allâh tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. [Al-Mukmin/Ghâfir/40: 28]

2- Demikian juga orang yang suka dusta pasti akan mendapatkan celaka.

قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ

Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan yang lalai. [Adz-Dzâriyat/51: 10-11]